Arca bertajuk sosial media

WA / FB jaman baheula.
SEJARAH.
jaman dahulu, bisa dikatakan tidak ada orang berpacaran. berpacaran adalah sesuatu hal yang tabu. jika ada orang berpacaran pasti menjadi bahan omongan bahkan sering ditertawakan dan disoraki dengan tepuk tangan meriah. 


jika seorang lelaki naksir wanita, kemudian ada lelaki lain juga naksir, itu bisa menjadi permusuhan bahkan bisa berantem. seorang lelaki untuk bisa mendapatkan wanita idamannya banyak yang berjuang dengan penuh semangat,  tidak sedikit lelaki yang meminta bantuan dukun/ orang tua/ paranormal untuk mendapatkan wanita idamannya. padahal lelaki tersebut belum tentu setia mendampingi wanita yang telah menjadi istrinya. hal ini terbukti si suami masih ingin mendapatkan istri baru. 

adalah suatu kebanggaan jika lelaki bisa punya istri lebih dari satu. sebaliknya istri pertama bisa jadi malah bangga jika suaminya menikah lagi karena ia akan menjadi permaisuri di dalam keluarganya bagai ratu. sedangkan istri ke dua dan berikutnya akan menghormati kepada istri pertama tadi. 

kini tidak lagi begitu. 
orang berpacaran berganti ganti sangat menyolok tidak punya malu dan sedikit yang cemburu karena hal ini sudah menjadi tradisi bahkan sangat banyak yang melampaui batas tata susila pergaulan. meski demikian toch banyak orang tua yang kurang peduli pada anak anaknya sehingga banyaklah terjadi hamil di luar nikah, bahkan ada sampai anak yang lahir menjadi dewasa pun orang tuanya tidak nikah. lelaki yang menghamilinya tidak mau menikahi. 

jaman dulu orang akan menikahpun tidak sedikit yang tidak tahu mana calon istri atau calon suaminya. dulu yang saling cinta mincintai adalah para orang tuanya. biasanya orang tua pada menempatkan diri pada posisinya masing masing sesuai tingkat /derajat sosialnya. orang kaya biasanya berbesanan dengan orang kaya atau orang yang memiliki status sosial tinggi memilih calon besan yang sederajat. 

itulah tatakrama dan peradaban. gambar di sini menjelaskan suatu adegan sejarah, keluarga yang ingin mencarikan pasangan hidup untuk anaknya harus melalui proses panjang. 

suatu keluarga punya anak lelaki menaksir seorang gadis sebagai calon menantunya. keluarga tersebut juga merasa cocok terhadap orang tua gadis maka orang tua lelaki mengutus serombongan orang untuk melamar kepada orang tua si gadis sambil membawa lukisan dari si jejaka. 

adapun orang tua dari si gadis di kemudian hari membalas kunjungan dengan mengutus serombongan orang sambil membawa lukisan si gadis. 

dalam gambar ini tampak masing masing rombongan (berasal dari pulau lain, di situ juga terlukiskan kapal yang berlabuh) saling menyerahkan lukisan atau portret dari si jejaka dan si gadis. 

untuk saat sejenak masing masing keluarga saling mempertimbangkan untuk mengambil keputusan. setelah kedua belah pihak saling merasa cocok, barulah diadakan persiapan acara ijab qobul dan diteruskan dengan pesta pernikahan.

itulah yang sekarang mungkin menjadi WA / FB.

Komentar