Postingan

Soekarno Semprotkan Kalimat Ini Hingga Menlu AS Ketar-ketir

Gambar
Geram Soal Papua Barat, Soekarno Semprotkan Kalimat Ini Hingga Menlu AS Ketar-ketir Enam belas tahun silam pernah ada peristiwa yang membuat suasana Indonesia tak enak. 70 figur politik Papua dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora di Irian Barat pada 1 Desember 1961. Tindakan main api ini diperparah dengan disandingkannya bendera Bintang Kejora dengan bendera Merah-Putih-Biru milik Belanda. Hari itu para elit Papua pengikut Belanda juga menyepakati untuk memberi nama Papua Barat dan meresmikan lagu kebangsaan 'Hai Tanahku Papua' dengan lambang negara 'Burung Mambruk' serta semboyan 'Satu Rakyat, Satu Jiwa.' Aksi 'teatrikal' ini mendapat respon keras dari pemerintah Indonesia. Indonesia memandang Belanda mencoba membuat negara boneka Papua dengan aksi teatrikal itu. Mengutip Asvi Warman Adam : Determinasi Soekarno Memilih Hari Proklamasi yang diterbitkan oleh Majalah Intisari No.635 Agustus 2015, 18 hari kemudian untuk merespon aksi teatrikal itu, Soek...
Gambar
KISAH EKS TENTARA JEPANG YANG MEMBOBOL GUDANG SENJATA INGGRIS DAN MEMBAGIKANNYA KEPADA PEJUANG REPUBLIK  Pasca kekalahan Jepang dari Sekutu pada 1945, membuat para tentaranya yang berada di wilayah Hindia Belanda yang mengalami kekalutan. Tak sedikit yang menyerah pada Sekutu dan menunggu pemulangan ke Jepang. Ada pula yang melakukan harakiri atau bunuh diri dengan menusukkan pedang. Tetapi ada juga yang malah beralih membelot dan membela Republik.  Salah satunya adalah Mitsuyuki Tanaka, seorang prajurit muda berpangkat 'buco' atau sersan berusia 24 tahun. Kebenciannya pada Sekutu karena telah menghancurkan negerinya dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Hal itulah yang menyebabkan dirinya bergabung dengan Indonesia.  Tanaka mendapat pangkat Sersan Mayor saat bergabung dengan BKR (cikal bakal TNI) di Magelang pada 1945. Sebagai bukti kecintaannya pada Indonesia dan setelah menikah dengan gadis desa dari Brengkel Salaman bernama S...

Arca bertajuk sosial media

Gambar
WA / FB jaman baheula. SEJARAH. jaman dahulu, bisa dikatakan tidak ada orang berpacaran. berpacaran adalah sesuatu hal yang tabu. jika ada orang berpacaran pasti menjadi bahan omongan bahkan sering ditertawakan dan disoraki dengan tepuk tangan meriah.  jika seorang lelaki naksir wanita, kemudian ada lelaki lain juga naksir, itu bisa menjadi permusuhan bahkan bisa berantem. seorang lelaki untuk bisa mendapatkan wanita idamannya banyak yang berjuang dengan penuh semangat,  tidak sedikit lelaki yang meminta bantuan dukun/ orang tua/ paranormal untuk mendapatkan wanita idamannya. padahal lelaki tersebut belum tentu setia mendampingi wanita yang telah menjadi istrinya. hal ini terbukti si suami masih ingin mendapatkan istri baru.  adalah suatu kebanggaan jika lelaki bisa punya istri lebih dari satu. sebaliknya istri pertama bisa jadi malah bangga jika suaminya menikah lagi karena ia akan menjadi permaisuri di dalam keluarganya bagai ratu. sedangkan istri ke dua dan berikutnya ...
"FAKTA.... SEJARAH MENCATAT  MADURA PERNAH JADI NEGARA" Gerakkan untuk menjadikan Madura sebagai provinsi terus digulirkan...... Pulau Madura yang terbagi menjadi empat kabupaten yakni Bangkalan...  Sampang.... Sumenep....dan Pamekasan ditargetkan lepas dari Provinsi Jawa Timur....... pada 16 Agustus 2016...... Jika sejarahnya ditengok..... pulau seluas 5.168 kilometer itu ternyata pernah menjadi suatu negara...... hal itu terjadi pada 1948.....  Di mana..... Presiden Madura dijabat oleh Wali Negara Raden AA Cakraningrat..... Negara Madura pada waktu itu juga memiliki bendera berwarna Hijau dan Putih....... Namun.... negara itu tidak bertahan lama..... hanya bertahan selama dua tahun saja......  Pada tahun 1950.... Negara Madura bubar dan kembali bergabung ke Indonesia..... Foto di bawah ini di ambil di bangkalan... Pada tahun 1948.... Sumber:google

TUANKU HASYIM BANTA MUDA, SANG YANG MENOLAK TAHTA

Makam Tuanku Hasyim Banta Muda di Masjid Tuha, Padang Tiji,  Kabupaten Pidie. Pusaranya sangat sederhana. Tak ada tanda tanda jika yang terbaring di sana adalah seorang tokoh besar, seorang ulama wara', patriot sejati yang hidupnya hanya untuk jihad demi mempertahankan kedaulatan Aceh dari rongrongan musuh. Tuanku Hasyim Banta Muda, anak Gampong Lambada Lhok, Aceh Besar,  dilahirkan tahun 1834. Dia kerabat kesultanan Aceh. Dua kali dia  diminta menjadi pemimpin Aceh (Sultan Aceh), namun ulama wara' ini menolak dengan bijak dengan kalimat “Lebih senang menjadi rakyat biasa daripada menjadi Sultan Aceh.” Kepribadian mulia keturunan diraja Aceh ini sangat jarang dibahas  hari ini. Pada tahun 1850, Tuanku Hasyim Banta Muda menjadi wali (gubernur) sultan Aceh untuk wilayah Sumatra Timur. Ini mencakup mulai  Simpang Ulim, Tamiang, Serdang dan Deli,  menggantikan peran ayahandanya Tuanku Abdul Qadir yang  mangkat dengan bermarkas di Pulau Kampai (Langkat). Ke...